GOBO [Juli 2008 - 14 Desember 2009]
seumur hidupku memelihara kucing, tak pernah kulihat mereka sampai tumbuh besar. entah
berapa banyak. jika tak hilang tak tentu kabarnya, biasanya kucing-kucingku mati
tertabrak. dan baru kemarin aku membatin bahwa aku diberi kepercayaan memelihara gobo
sampai besar, hari ini aku memakamkannya di halaman rumahku. ah…
aku ingat lebih setahun lalu sebuah keluarga yang kutemui saat tugas memberikannya
padaku. mereka punya dua pejantan, aku boleh membawa salah satunya. aku memilih kucing
putih pendiam dengan hiasan hitam yang hampir simetris di kanan kiri tubuhnya. yang
kemudian aku beri nama gobo.
ternyata aku tidak salah pilih. gobo tumbuh menjadi kucing jantan yang welas asih.
terbukti saat kemudian aku mendapatkan lorenz, kucing betina peranakan angora, gobo
bisa menerimanya dengan lapang dada. main dan makan bersama, saling gigit dalam canda,
saling memandikan. mereka bisa tumbuh bersama layaknya saudara. bahkan gobo lebih suka
mengalah terhadap lorenz dalam hal makanan. sering dia pergi dari piringnya bila lorenz
meminta jatahnya.
saat lorenz melahirkan 4 ekor anak -yang aku yakin bukan anak gobo- gobo pun bisa
menerima mereka. awalnya memang gobo tak mau berdekat-dekatan dengan anak-anak itu,
tapi kelamaan, gobo pun bercanda dengan mereka, menjilati tubuh anak-anak kucing itu,
menjadi paman yang baik bagi mereka kurasa. bahkan setelah agak besar, lebih sering
kulihat mereka tidur bersama gobo daripada dengan induknya.
saat lorenz tidak mau lagi menyusui anak-anaknya, sering kali mereka mencari-cari
puting susu pada tubuh gobo -yang selalu membuatku tertawa geli- tak mendapatkan susu,
mereka mendapatka jilatan-jilatan sayang. yang sama berharganya.
tapi ah, semua itu telah berlalu. kumakamkan gobo sore tadi, setelah tubuhnya didapati
kaku di bawah pohon melati rumah sebelah. kugali sendiri kuburnya, kuletakkan ia di
liang dengan kepala di utara, menghadap ke barat sebagai ucapan terimakasihku atas
waktunya menemaniku selama ini. lalu kupatok nisan di atasnya, sebagai pertanda bahwa
di situ telah terbaring gobo, kucing baik yang super lembut.
karena apa ia mati? mungkin ia makan tikus yang beracun, atau disengat serangga
beracun. banyak spekulasi di kepalaku, bisa juga ia sakit dan aku tak
mengetahuinya sebab ia jarang sekali ada di rumah? ah, bodohnya aku!
gobo, yang paling diam jika dimandikan, tapi yang langsung rebahan di tanah saat
setengah kering.
ah… airmataku menetes, bahkan sampai saat ini.
begitu lah kehidupan .. relakan kepergian nya.. mungkin di dunianya yg laen dia mendapatkan kebahagiaan yg lebih…