Archive

Archive for the ‘simple stories’ Category

Faray

May 25, 2008 1 comment

Aku terbangun di suatu siang dalam ruangan yang semuanya berwarna putih. Aku di rumah sakit, dokternya bule, memperkenalkan diri sebagai dr. Thompson. Mereka bilang aku pingsan kejatuhan pot dari lantai dua sebuah apartemen. Membuatku teringat komik Gober Bebek yang pernah kubaca, di situ Donald lantas bersuara merdu gara-gara kejatuhan pot.
Entah apa yang dia lakukan padaku tadi, sekarang dia memeriksa mataku dengan senter. Bertanya nama lengkapku, juga tanggal lahir dan nama orang tua. Kurasa aku menjawab semuanya dengan benar, tapi ketika aku menyebutkan alamat tempat aku tinggal dokter itu diam. Aku bilang aku tinggal di Jl. Bukit Cengkeh II Blok F1/6 Cimanggis, Bogor. Dia memandangku, dan wanita di sebelah ranjangku berganti-ganti. Aku tak tahu siapa dia, tapi jawabanku sepertinya membuat dia begitu gelisah.
Where is Bogor?” tanya dokter itu, dengan kata ‘Bogor’ yang terdengar begitu aneh di telinga.
“Bogor ya di Bogor. Indonesia of course!” jawabku, “how long been you in Indonesia, can you speak Indonesia?
Indonesia?
“Papa….” wanita itu akhirnya bicara. Aku menoleh padanya, dia memangilku siapa? “Siapa?” tanyaku.
“Papa, jangan bergurau, jangan buat aku panik!”
Aku tambah melongo. Dokter itu memberi isyarat untuk berbicara berdua dengan wanita itu. Aku ditinggal sendiri. Aku bangun dari ranjang, berjalan ke arah jendela. Aku berjalan dengan normal, pikirku. Berarti aku tak apa-apa.
Aku melihat ke luar jendela. Aku berada di lantai dua mungkin. Di luar, aku melihat lapangan rumput hijau, beberapa pohon, dan juga pasien yang berjalan-jalan di jalan-jalan di pinggir lapangan. Mereka semua bule. Aku tak pernah tahu ada RS khusus bule di Bogor. Sebenarnya aku di RS mana?
Aku menunggu, lama juga.
Akhirnya dokter dan wanita itu masuk. Matanya berkaca-kaca.
Mr. Faray, do you remember Mrs. Faray, your wife?” tanya dokter itu menunjuk wanita di sebelahnya.
Excusme?
Your wife, Mr. Faray. Do you remember?
I’m sorry but I do not know what are you talking about! Wife? I don’t even know this lady! I’m 18, doc!” wanita itu menutup mulutnya, menahan isak, lari ke luar ruang. Sedang dokter itu malah mendekat.
Mr. Faray, I think you should to know about something” dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sebuah cermin sebesar mouse pad. “Watch to this,” sangat hati-hati dijulurkannya cermin itu padaku. Kuterima dengan heran, lalu kuangkat untuk melihat wajahku. Di situ aku melihat seraut wajah. Wajah pria berumur 30an tahun, dan aku tahu itu wajahku.
Aku.
Tapi…..
Cermin itu sudah terlepas dari tanganku, jatuh berserak dekat kakiku. “What is going on? What is going on..?” teriakku pada dokter itu.

***

Hari itu juga orang tuaku datang ke LA. Dimataku mereka tampak begitu tua, tapi itulah mereka yang sebenarnya. Dan inilah aku yang sebenarnya.
Aku tidak bisa mengingat apapun kejadian 12 tahun yang telah aku lewati. Dokter RS itu bilang aku mengalami dissociative fugue, amnesia parah yang sampai sekarang belum ada penjelasan yang masuk akal, apalagi obat penyembuhnya, tapi dari cerita Yanik -wanita di RS yang ternyata benar adalah istriku- juga keluargaku, pegawai tokoku -aku punya swalayan kecil, di Indonesia mungkin sebesar Indomaret di kota kecil- aku bisa meraba-raba apa yang terjadi padaku.
Yang kuingat, aku sekolah di SMU 18 Bogor kelas 2-5. Pacarku, Rani kelas 2-2 di sekolah yang sama. Seingatku, tadi aku ulangan Fisika. Lalu kami pulang sekolah naik motor berboncengan .
Dua belas tahun yang lalu aku dan Rani kecelakaan. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi. Mereka bilang Tigerku hancur, di kolong truk yang menabrakku.
Mereka cerita, aku dan Rani bisa dibilang hampir mati. Tapi Rani akhirnya siuman dihari ke-2 setelah kecelakaan. Dia selamat.
Aku dirujuk ke RS lain. Begitu siuman, aku tak ingat apa-apa lagi. Tidak namaku, tidak kejadian yang aku alami. Aku amnesia.
Pada semua orang yang mengenalku di Bogor, keluargaku bilang aku meninggal dalam kecelakaan itu dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Surabaya.
Aku memang dibawa ke Surabaya, tapi sebenarnya Keluargaku berencana merawatku di Amerika. Kalaupun aku tak bisa ingat masa laluku lagi, diharapkan aku punya kehidupan baru di sana bersama kakak sulungku yang bekerja di sana.
Mereka benar dan berhasil, aku punya kehidupan di sini, seorang istri dan seorang putra. Yanik, istriku, Seno, putraku. Yang sekarang usianya 8 tahun.
Pada Rani, keluargaku mengatakan hal yang sama. Aku meninggal dan langsung dimakamkan di Surabaya. Mereka bilang Rani menangis seharian, juga berhari-hari setelahnya. Aku bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu, kondisinya saat itu. Aku tidak tahu kenapa tapi, ada rasa bersalah dalam diriku.
Esoknya aku berkeras pulang ke Bogor tak peduli keluargaku, dan dokter bilang apa.

***

Akhirnya aku pulang. Ke Bogor. Papa dan mama menyertaiku.
Aku ingat dengan jelas jalan-jalan yang kami lewati. Banyak berubah memang, tapi semuanya masih sama. Suasananya, angkotnya, macetnya, taman-taman tempat aku biasa nongkrong, semuanya masih sama.
Aku minta dilewatkan dimana dulu aku kecelakaan. Juga di depan SMU-ku. Tapi tak satu hal pun dapat kuingat. Serasa ada lubang dalam diri ini, yang tidak tahu di mana atau akan ditambal dengan apa.
Mobil kami berhenti di depan SMU-ku dulu. Aku melihat Pak Jono, guru fisikaku pulang. Beliau masih aktif mengajar rupanya, terakhir kami bertemu, 12 tahun yang lalu, ulangan di kelas Fisikanya. Apa beliau akan masih mengenaliku? Jika ya, mungkin sebagai hantu, sebab baginya aku sudah mati.
Perjalanan berlanjut, semakin dekat rumah, perasaanku tak karuan. Ada perasaan suka yang membuncah, ada sedih yang diredam, ada senyum di wajahku, tapi juga ada air mata.
Pagar rumah, seingatku berwarna biru, sekarang hitam. Bangunan rumah tetap sama. Rumput di halaman juga sama hijaunya. Aku melihat sebuah tiang di seberang halaman tempatku berdiri. Seingatku, itu tiang ring basket.
Aku memandang berkeliling. Tak ada tatanan yang berubah, lurus dengan pintu pagar ada garasi, papa akan marah kalau aku parkir motor pas di depan pintu garasi.
Aku mengambil napas panjang.
Aku rindu tempat ini, aku rindu berada di sini.
Ridnu, kakak keduaku menyambutku. Dia juga kelihatan tua. Sudah beristri pula. Anak-anak ditinggal, katanya. Mereka tinggal di Bali.
Aku sama sekali tidak merasa asing dengan keadaan rumah. Situasi dan perabotaannya lebih kurang Sama. Aku malah merasa lebih nyaman berada di sini daripada di apartemenku di LA. Di sana aku benar-benar merasa asing, juga pada istriku sendiri. Dalam beberapa hari dia akan menyusulku ke Bogor. Terserahlah, kubilang.Ternyata kami masih keluarga jauh.
Aku mendesak Papa dan Mama menceritakan keadaan Rani. Aku ingin melihatnya, tapi mereka tak mau cerita. Mereka hanya bilang ibunya meninggal, Rani sakit dan mesti di rawat untuk waktu yang lama. Hanya itu.
Satu-satunya cara yang kupikirkan, aku menelpon ke rumah orang tuanya. Aku masih hapal nomornya. Kubilang saja, aku teman SMP-nya dan sekarang ingin menyampaikan undangan reuni. Ayahnya tidak keberatan aku menemuinya, tapi beliau mengingatkan bahwa Rani bukan lagi Rani yang dulu. Dia memberiku sebuah alamat.

***

RSJ Anggrek. Tulisan itu yang kubaca di papan nama begitu mencocokkan alamat yang diberikan Ayah Rani. Aku shock. RSJ? Separah itukah? Karena aku?
Aku masuk ke ruang utamanya. Kukatakan pada penerima tamu aku ingin bertemu pasien perempuan, Maharani Dwi Hanggono. Dia bertanya aku siapa-nya, kujawab temannya lalu dia menghubungi nomor ekstensi. Tapi lalu katanya aku tak boleh bertemu kecuali atas izin dokter yang merawatnya. Aku ingin bertemu dokternya, pintaku. Sayang dokternya sedang tidak ada di tempat, katanya. Tapi aku dizinkan melihatnya dari balik dinding kaca taman RS, Rani sedang berada di taman.
Aku diantar ke dinding kaca itu. Dibaliknya aku melihat halaman rumput hijau, bunga-bunga menghiasinya, juga pepohonan rindang. Pasien di RS ini memakai baju serba abu-abu.
Ada beberapa bangku dari kayu di sana tempat pasien dan pengunjung bisa duduk bersama.
Beberapa pasien sedang dikunjungi, yang lain seperti asyik dengan dunianya masing-masing. Kulihat ada yang bersila di bawah pohon. Ada yang melamun sendiri di bangku. Ada juga yang berjalan-jalan di rerumputan.
Suster yang mengantarku menunjuk pada seorang wanita. Dia duduk sendiri di salah satu bangku yang menghadap jendela ini. Gerakannya seperti orang yang sedang bercakap-cakap, tapi aku tak ada satu orangpun di dekatnya. Suster yang mengantarku lantas bertanya apa aku tahu apa yang menimpanya sehingga dia ada di situ, bercakap sendirian. Kurasa aku tahu tapi aku diam saja. Suster itu langsung saja bercerita, 12 tahun lalu wanita itu dan kekasihnya kecelakaan, kekasihnya meninggal. Mungkin kenyataan itu terlalu berat baginya, dia tak kuat dan stres. Dia dibawa kesini 11 tahun lalu, berteriak histeris memanggil nama kekasihnya itu. Dia menari, menangis, tertawa, bicara sendiri. Kadang kalau ingat kecelakaan itu dia akan kembali berteriak-teriak. Faray…Faray…sepertinya itu nama kekasihnya.
Aku tak menanggapi ceritanya. Aku lebih tahu apa yang terjadi suster, batinku.
Suster itu pergi.
Faray, Achmadian Faray. Ya…itu aku.. Tapi aku tidak meninggal, Rani, aku ada di sini. Tanpa sadar aku mengetuk kaca itu berharap Rani menoleh dan melihatku. Apa kau akan mengenaliku, Rani?
Air mataku mengalir. Apa kau sedang bercakap denganku, Rani?

***

Aku seakan berada di dua dimensi waktu yang berbeda. Di luar sana Yanik menungguku bersama putraku, Seno. Sedangkan di sini aku melihat wanita yang kucintai, bercakap-cakap denganku di pikirannya. Pikirannya berada di 12 tahun yang lalu, sedangkan Yanik adalah masa kini. Aku? Dimanakah aku berada? Aku tidak gila seperti Rani, tapi aku juga bukan lelaki yang menikahi Yanik.
Aku sadar aku berada di masa sekarang, tapi seingatku, tadi aku ulangan Fisika.

______________________

Dissociative fugue : penyakit lupa yang yang lebih parah dari dissociative amnesia. Penderitanya bukan saja menjadi amnesia tetapi bisa membentuk identitas baru, kepribadian baru. Biasanya karena karena tekanan yang sangat berat. Dan setelah sembuh penderitanya tidak ingat apa yang terjdi selama mengalami fugue

Categories: simple stories Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.